Salah satu komitmen pemerintah dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca atau net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat adalah menguji coba perdagangan karbon atau bursa karbon. Hal ini akan ditargetkan berfungsi pada 2025 untuk menekan emisi gas rumah kaca dan mendorong transisi energi.

Lantas, apa sebenarnya bursa karbon? Apa saja dampaknya? Simak artikel ini hingga selesai untuk mengetahui penjelasannya secara lengkap!

Apa itu Bursa Karbon?

Bursa karbon merupakan mekanisme yang mengatur perdagangan serta mencatat kepemilikan unit karbon sesuai dengan mekanisme pasar. Tujuannya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui jual-beli karbon. Hal ini dilakukan sejalan dengan target Pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% dengan upaya sendiri atau hingga 41% dengan dukungan eksternal pada tahun 2030. 

Pada praktiknya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menerbitkan aturan khusus soal berapa ambang batas yang diberikan bagi industri untuk mengendalikan emisinya. Apabila kredit karbon dari sebuah perusahaan berada di atas ambang maksimal, maka perusahaan tersebut harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli kredit karbon perusahaan lain yang belum digunakan.

Jenis-jenis Perdagangan Karbon

Secara umum, terdapat dua jenis perdagangan karbon, antara lain:

1. Perdagangan Karbon Wajib. Pada jenis ini, suatu negara akan menerapkan mekanisme cap and trade, yaitu menentukan kuota emisi karbon suatu perusahaan dalam periode tertentu, berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.

Baca juga  14 Tips Memperbaiki dan Menjaga Brand Reputation

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, perusahaan yang memiliki hasil audit emisi karbon di bawah kuota yang sudah ditetapkan, dapat menjual sisa kuotanya di pasar karbon. Sedangkan, perusahaan dengan hasil emisi karbon yang melebihi kuota, harus membeli kuota emisi dari perusahaan lain atau membayar denda.

2. Perdagangan Karbon Sukarela. Seperti namanya, seluruh penerbitan, pembelian dan penjualan kredit karbon dilakukan secara sukarela. Pihak yang tidak diwajibkan mengikuti mekanisme cap and trade namun tetap ingin melakukan offset terhadap emisi karbon yang dihasilkan, dapat membeli karbon kredit tersebut. 

Dengan berpartisipasi dalam pasar karbon sukarela, pembeli kredit karbon dapat mengklaim status karbon netral dan dianggap telah berkontribusi dalam menjaga iklim bumi.

Dampak Perdagangan Bursa Karbon

Tidak hanya memiliki dampak positif pada lingkungan namun perdagangan bursa karbon juga bermanfaat bagi negara yang menerapkannya. Berikut ini akan dijelaskan beberapa dampak positif dari perdagangan bursa karbon, antara lain:

1. Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Pemberlakuan batas emisi dan perdagangan izin atau kredit karbon dapat menciptakan insentif, bagi perusahaan dan sektor-sektor lain untuk mencari berbagai cara inovatif dan ramah lingkungan untuk mengurangi emisi mereka.

2. Meningkatkan Investasi dalam Teknologi Ramah Lingkungan

Perdagangan bursa karbon mendorong perusahaan untuk berinvestasi dalam teknologi dan proses yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Hal ini dikarenakan perusahaan yang mengurangi emisi gas rumah kaca berpotensi mengembangkan teknologi hijau dan sustainability.

3. Transparansi dan Pemantauan Emisi

Proses perdagangan kredit karbon tentunya memerlukan data atau informasi yang akurat mengenai emisi, sehingga nantinya akan menciptakan kesadaran dan akuntabilitas terhadap dampak lingkungan.

4. Distribusi Keuntungan

Perusahaan yang memiliki surplus izin atau kredit karbon dapat menghasilkan pendapatan tambahan dari surplus tersebut. Sementara perusahaan yang memerlukan izin tambahan dapat membelinya di pasar.

Baca juga  7 Aspek Customer Behavior Gen Z terhadap Sustainable Products

5. Pengaruh Pasar Internasional

Perdagangan kredit karbon dapat menciptakan peluang bagi negara-negara berkembang untuk mendapatkan dukungan keuangan dari negara-negara maju, melalui investasi dalam proyek-proyek pengurangan emisi.

6. Terbukanya Peluang Ekonomi Baru

Indonesia diperkirakan akan menyumbang sebanyak 75 – 80% kredit karbon dunia. Hal tersebut membuat perdagangan karbon memberikan kontribusi hingga lebih dari US$ 150 miliar untuk perekonomian Indonesia.

Daftar Negara Pengguna Bursa Karbon

Indonesia baru akan memulai perdagangan karbon di sektor pembangkit listrik. Akan tetapi, terdapat sejumlah negara yang sudah menerapkan hal ini melalui sistem perdagangan emisi (emission trading system/ETS), diantaranya:

1. Uni Eropa

Salah satu sistem bursa karbon terbesar di dunia dimiliki oleh Uni Eropa, yaitu European Union Emissions Trading System (EU ETS). EU ETS telah beroperasi sejak tahun 2005 dan menjadi model bagi negara lain. Sistem ini meliputi negara-negara anggota Uni Eropa yang mencakup berbagai sektor ekonomi, seperti industri besar, penerbangan dan lain-lain.

2. Kanada

Kanada memiliki beberapa skema perdagangan karbon di tingkat provinsi, salah satunya adalah British Columbia Carbon Tax. Skema ini memberlakukan pajak karbon pada bahan bakar fosil untuk mendorong pengurangan emisi.

3. Cina

Sejak tahun 2013, Cina telah memulai uji coba skema perdagangan karbon di beberapa wilayahnya. Mereka juga berencana untuk meluncurkan sistem nasional perdagangan karbon yang lebih luas.

4. Australia

Sebetulnya, Australia telah memiliki sistem perdagangan karbon yang telah beroperasi sejak 2012 hingga 2014. Akan tetapi, sistem ini kemudian dihapus dan digantikan oleh Direct Action Plan yang lebih berfokus pada pendekatan sukarela.

5. Korea Selatan

Negara ini telah meluncurkan Korea Emissions Trading Scheme (KETS) pada tahun 2015 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari berbagai sektor industri.

Baca juga  Pentingnya Sustainable Beauty dalam Dunia Bisnis Skincare

Penutup

Dengan segala dampak positif yang telah dijelaskan di atas, maka perdagangan bursa karbon dianggap sebagai instrumen yang sangat penting dalam strategi global untuk mengatasi perubahan iklim dan mencapai target emisi yang telah ditetapkan. Selain itu, langkah ini juga sangat menguntungkan perusahaan maupun bisnis untuk beralih ke arah yang lebih sustainability (keberlanjutan).

Mari pelajari lebih mendalam mengenai topik ini bersama program kekhususan eksekutif kolaborasi antara Unika Atma Jaya, universitas yang mengusung kajian sustainability komprehensif di Indonesia, dengan MarkPlus Institute, konsultan pemasaran pertama dan ternama di Indonesia, yaitu Program Master in Management Sustainability Marketing.

Program ini bertujuan untuk membentuk talenta organisasi yang mampu membangun strategi bisnis, memahami manajemen bisnis berkelanjutan dan menguasai strategi marketing yang aplikatif dan bisa membangun market competitiveness. Tunggu apalagi? Jadilah bagian dari Sustainability Marketing sekarang juga!

Untuk informasi lebih lanjut, klik tautan berikut ini Sustainability Marketing

Share with Your Friends!
Avatar for Atha Hira
SEO Writer

Leave a Comment