Saat ini, banyak perusahaan atau bisnis yang mengadopsi konsep dari Theodore Levitt (1960) sebagai acuan operasional mereka. Konsep ini menggunakan pendekatan yang berpusat pada pelanggan sebagai titik awal dalam pengembangan produk dan layanan.

Akan tetapi, pada kenyataannya konsep ini tidak membuahkan hasil yang manis bagi sebagian perusahaan. Mereka terjebak dalam fenomena marketing Blind Spot, di mana perusahaan merasa sudah melakukan manajemen marketing dengan baik dan benar, namun mereka tidak menyadari ada beberapa hal atau elemen yang ditinggalkan atau kurang dioptimalkan.

Fenomena ini kerap menyebabkan perusahaan kehilangan kemampuannya untuk bersaing di era bisnis yang semakin kompetitif. Artikel ini akan menjelaskan beberapa contoh marketing Blind Spot yang jarang disadari perusahaan dan bagaimana cara mengatasinya. Simak artikel ini hingga selesai!

6 Contoh Marketing Blind Spot

Di bawah ini akan dijelaskan beberapa contoh marketing Blind Spot yang jarang disadari oleh perusahaan.

  1. Mengabaikan Macro-environment

Macro-Environment (lingkungan makro) merupakan seperangkat faktor dan kekuatan eksternal yang tidak dikendalikan oleh perusahaan, namun mempengaruhi perkembangannya, seperti demografis, ekonomi, teknologi, dan politik.

Apa yang terjadi di lingkungan makro dapat mempengaruhi lingkungan mikro (lingkungan yang berhubungan langsung dengan perusahaan). Akan tetapi, pada praktiknya perusahaan kurang memperhatikan aspek ini karena dianggap sulit untuk menghubungkannya dengan kebijakan taktis di perusahaan.

Seharusnya, perusahaan mampu menghadapi berbagai aspek macro-environment yang sangat dinamis dan selalu berubah tiap waktu ke waktu. Jika praktik marketing dalam suatu perusahan berkembang lebih lambat dibandingkan lingkungan makronya, maka keuntungan yang didapat pun semakin terkikis atau bahkan menghilang.

  1. Ketidakselarasan antara Marketing dan Finance

Situasi di mana departemen pemasaran (marketing) dan departemen keuangan (finance) dalam suatu perusahaan tidak bekerja secara sejalan atau tidak memiliki keselarasan dalam hal tujuan, strategi, atau pandangan mereka terhadap pengelolaan sumber daya finansial. 

Kedua departemen ini mungkin saja memiliki perbedaan pendekatan, prioritas, atau pandangan yang dapat mengakibatkan ketegangan atau ketidakcocokan. Permasalah-permasalahan yang terjadi meliputi:

  • Ketidakcocokan dalam Alokasi Anggaran

Departemen marketing mungkin ingin menghabiskan lebih banyak anggaran untuk kampanye pemasaran atau inisiatif penjualan, sementara departemen financial mungkin lebih berfokus pada pengendalian biaya.

  • Ketidakselarasan Strategis

Biasanya, marketing berfokus pada cara membangun brand awareness, menarik pelanggan, dan lain-lain, sementara keuangan lebih fokus dengan hal-hal yang berkaitan dengan kinerja finansial, profitabilitas, dan pengelolaan risiko. Apabila tujuan strategis kedua departemen ini tidak selaras, maka bisa menyebabkan ketidakseragaman dalam strategi perusahaan secara keseluruhan.

  • Kurangnya Berbagi Data
Baca juga  Strategi Pemasaran dengan Word of Mouth

Pengambilan keputusan yang efektif dalam bidang marketing dan financial kerap bergantung pada data dan analitika. Jika kedua departemen ini tidak berbagi data atau tidak memiliki akses ke sumber data yang sama, bisa mengakibatkan keputusan yang kurang optimal dan kurangnya transparansi.

  1. Ketidakharmonisan antara Marketing dan Sales

Sama seperti sebelumnya, hal ini menggambarkan situasi di mana departemen pemasaran (marketing) dan departemen penjualan (sales) dalam suatu perusahaan bekerja tidak seiring atau tidak harmonis. Beberapa contohnya adalah:

  • Kurangnya Komunikasi

Salah satu masalah utama adalah kurangnya komunikasi antara departemen marketing dan sales yang dapat mengakibatkan ketidakjelasan pada strategi marketing, pelanggan yang ditargetkan, dan cara mengikuti peluang penjualan.

  • Target yang Tidak Sejalan

Jika departemen marketing dan sales memiliki pemahaman yang berbeda tentang target pelanggan yang harus dituju atau jenis peluang yang harus dikejar, maka hal ini dapat menghambat pencapaian tujuan bisnis.

  • Tidak Ada Kolaborasi

Ketika departemen marketing dan sales tidak bekerja sama, maka sama saja melewatkan kesempatan untuk berkolaborasi dalam mengembangkan strategi marketing yang efektif dan penjualan yang sukses.

  1. Lemahnya Integrasi antara Online dan Offline Marketing

Dalam rangka memperkuat eksistensi suatu perusahaan, maka hal yang dilakukan tidak hanya sekadar mengadopsi satu metode antara offline atau online saja. Melainkan, perusahaan harus memperhatikan aspek-aspek showrooming dan juga webrooming yang lebih holistik dan terkoordinasi.

  1. Overlook Human Capital (Sumber Daya Manusia)

Perusahaan yang kuat membutuhkan tenaga kerja/ahli yang memiliki passion yang juga kuat dan mencintai pekerjaannya. Hal ini tidak termasuk orang-orang yang tujuannya hanya melakukan pekerjaan terbatas sesuai dengan perintah tanpa inisiatif apa pun.

Akan tetapi, perusahaan juga perlu mengakui dan memanfaatkan sepenuhnya potensi, keterampilan, pengetahuan dan kontribusi yang dimiliki dan diberikan oleh tenaga kerja atau pegawainya. Jika tidak, hal ini akan mengakibatkan berbagai dampak negatif pada produktivitas, inovasi dan kinerja perusahaan secara keseluruhan.

  1. Lack of Humanity in Marketing

Istilah ini merujuk pada situasi di mana praktik marketing atau strategi marketing yang digunakan oleh sebuah perusahaan tidak memiliki sentuhan rasa “manusiawi. Maksudnya, perusahaan gagal mengenali dan mengatasi aspek-aspek manusia dalam melakukan interaksi pelanggan.

Beberapa contoh kasusnya, antara lain:

  • Kurangnya Keterlibatan

Strategi marketing yang dilakukan oleh perusahaan tidak mempertimbangkan kebutuhan, keinginan atau masalah pelanggan sehingga keterlibatan mereka dalam berinteraksi dengan merek perusahaan sangatlah dikit.

  • Reputasi Buruk
Baca juga  Melancarkan Strategi dengan Taktik pemasaran

Praktik marketing yang tidak etis dan tidak manusiawi dapat merusak reputasi perusahaan dan memengaruhi citra merek secara negatif.

Bagaimana Cara Memperbaiki Marketing Blind Spot?

Bagaimana Cara Memperbaiki Marketing Blind Spot
Bagaimana Cara Memperbaiki Marketing Blind Spot?

Semua yang dijabarkan merupakan sebagian kecil dari marketing blinspot yang terjadi di perusahaan Anda. Sebagai pemasar Anda tidak boleh terjebak dalam pandangan sempit dalam konteks pemasaran maupun manajemen secara umum.

Ada beberapa cara untuk memperbaiki marketing blind spot:

  1. Segera identifikasi apa saja marketing blind spot yang mungkin ada di perusahaan kemudian melakukan kategorisasi apakah blind spot tersebut berada dalam ranah pemasaran (misalnya: public relations, sales, marketing communications, customer service, dan sebagainya)
  2. Melakukan analisis agar dapat memprioritaskan mana blind spot yang harus segera dibenahi dan pastikan prioritas tersebut memiliki dampak yang positif (misalnya, dapat dilaksanakan dengan cepat, mudah, tidak mahaldan tersedia pakarnya.
  3. Melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan berbagai pihak untuk persiapan termasuk alokasi waktu dan sumber daya.
  4. Menjalankan proses manajemen yang telah diperbaiki, serta melakukan evaluasi dari waktu ke waktu untuk perbaikan masa mendatang.

Setelah Anda dapat memprioritaskan dan mengevaluasi marketing blind spot, tentunya pemasar harus siap dalam berinovasi dan improve untuk perusahaannya. Hal ini berguna sebagai pendekatan solution-centric untuk meningkatkan margin keuntungan.

Konvergensi Innovation dan Improvement

Inovasi yang baik akan menghasilkan pertumbuhan bisnis, baik dalam jangka pendek (seperti penerimaan pelanggan dan tingkat kepuasan) maupun jangka panjang (seperti peningkatan margin keuntungan, profitabilitas dan sustainability).

Akan tetapi, saat Anda berupaya melakukan inovasi, apakah akan selalu menghasilkan improvement (perbaikan)? Jawabannya, belum tentu. Faktanya, tidak semua hal dapat berjalan sesuai rencana, termasuk berinovasi. Maka dari itu, diperlukan banyak upaya yang diatur untuk mencapai kemajuan perusahaan.

Demi mendapat hasil yang terbaik, Anda perlu menghubungkan jembatan antara innovation (yaitu memberikan solusi kepada pelanggan) dan improvement (yaitu meningkatkan margin keuntungan perusahaan). Anda tidak bisa mendapatkan improvement tanpa innovation, begitupun sebaliknya.

Berikut ini beberapa cara untuk menghubungkan kedua elemen tersebut, antara lain:

Menghubungkan inovasi dan perbaikan dalam konteks bisnis adalah langkah kunci untuk menciptakan keunggulan kompetitif dan pertumbuhan jangka panjang. Berikut adalah beberapa cara untuk menghubungkan inovasi dan perbaikan:

  1. Perhatikan Pelanggan

Pertama-tama, identifikasi kebutuhan dan masalah pelanggan agar inovasi yang dihasilkan berfokus pada solusi untuk masalah yang relevan bagi pelanggan Anda. Setelah inovasi diterapkan, tetap pantau umpan balik dari pelanggan untuk terus memperbaiki (improve) produk atau layanan.

  1. Perhatikan Proses Inovasi
Baca juga  7 Manfaat QR Code sebagai Strategi Pemasaran

Implementasikan proses inovasi yang terstruktur dan terkontrol, seperti tahapan penelitian, pengembangan, pengujian, hingga peluncuran produk atau layanan baru. Proses ini harus bisa diukur dan dievaluasi secara teratur.

  1. Fasilitasi Kolaborasi

Dorong kolaborasi antara innovation team dan improvement team operasional dengan memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan. Tim inovasi dapat menemukan cara-cara baru untuk melakukan berbagai hal yang berkaitan dengan produk, sementara tim perbaikan dapat membantu meningkatkan efisiensi proses yang ada.

  1. Gunakan Teknologi 

Manfaatkan teknologi dan alat digital untuk mendukung innovation and improvement. Contohnya, memanfaatkan analisis data untuk mengidentifikasi peluang perbaikan dan mengukur dampak inovasi.

  1. Pantau Kinerja

Tetapkan indikator kinerja (KPI) yang relevan untuk mengukur dampak innovation and improvement. Pantau KPI ini secara berkala untuk memastikan bahwa perusahaan mencapai tujuannya.

  1. Berinvestasi pada Sumber Daya Manusia

Pastikan bahwa tim Anda memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk melakukan inovasi dan perbaikan. Dalam hal ini, Anda dapat melibatkan pelatihan dan pengembangan karyawan.

Dengan menggabungkan inovasi yang relevan dengan perbaikan operasional secara terus-menerus, perusahaan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan jangka panjang dan keunggulan kompetitif.

Penutup

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa marketing blind spot menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dalam dunia bisnis sebab blind spot menunjukkan berbagai aspek dalam strategi marketing yang tidak terlihat atau tidak dipahami dengan baik oleh perusahaan.

Dengan melakukan upaya mengatasi blind spot ini, perusahaan dapat meningkatkan efektivitas strategi marketing dan mencapai kesuksesan yang lebih besar dalam mencapai tujuan bisnis yang ingin diraih.

Anda bisa mempelajari lebih lanjut mengenai marketing blind spot, mulai dari mengidentifikasi masalahnya hingga cara memperbaikinya, bersama program Entrepreneurial Marketing “ MBA (ENMARK “ MBA). Program ini dirancang khusus untuk para pemimpin bisnis generasi selanjutnya untuk belajar tentang pemasaran, manajemen, strategi bisnis, dan pola pikir kewirausahaan dalam pelaksanaan bisnis.

Program ini akan mengadakan berbagai kelas yang langsung diajarkan oleh akademisi terbaik dari marketing thinker SBM ITB dan pengajar profesional dari MarkPlus Institute. Output dari program ini diharapkan dapat mencetak para wirausaha yang akan membantu membangun ekosistem kewirausahaan di tingkat nasional maupun internasional.

Tunggu apalagi? Simak informasi selanjutnya di sini.

Share with Your Friends!
Avatar for Atha Hira
SEO Writer

Leave a Comment