Dalam rangka mewujudkan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), perlu adanya societal development untuk meningkatkan kesadaran bahwa persoalan sosial yang terjadi saat ini merupakan akibat dari perilaku manusia. 

Dengan kata lain, proses menyembuhkan dunia bisa dimulai dengan menyembuhkan diri kita sendiri melalui Inner Development Goals (IDGs). Istilah ini resmi didirikan pada tahun 2020 atas inisiatif Hannah Boman dan Jakob Trollbäck dari The New Division dan Erik Fernholm, pendiri 29k. IDGs juga mendapat dukungan sekelompok peneliti, pakar dan praktisi dalam pengembangan dan keberlanjutan kepemimpinan.

Artikel ini akan membahas konsep IDGs dan beberapa dimensi pembentuknya. Simak hingga selesai, ya!

Dimensi Pembentuk IDGs

Mengutip dari laman website IDGs, terdapat lima dimensi dan 23 kecakapan serta kualitas sebagai pembentuk IDGs. 

Being – Relationship to Self

Pada tahap ini, individu menyelesaikan proses pengenalan pada diri mereka sendiri. Mereka mulai mengenali dan menerima identitas mereka dengan memperkaya kehidupan batin mereka. Selain itu, individu juga mengembangkan dan memperdalam keterkaitan antara pikiran, perasaan, dan tubuh mereka. Hal tersebut memungkinkan mereka menyadari bahwa keberadaan mereka saat ini sangatlah penting. Dengan begitu, individu tidak mudah bereaksi secara impulsif terhadap berbagai masalah.

Terdapat lima keterampilan utama yang dimiliki oleh individu dalam dimensi ini. Pertama, Inner Compass, yaitu individu memiliki rasa tanggung jawab dan komitmen mendalam terhadap nilai-nilai dan tujuan yang berkaitan dengan kebaikan. Kedua, integritas dan autentisitas, yaitu komitmen dan kemampuan untuk bertindak dengan tulus, jujur, dan integritas. 

Baca juga  Mengulik Tren Sustainable Fashion pada Industri Pakaian Indonesia

Ketiga, pola pikir terbuka dan semangat belajar, menunjukkan kemauan untuk terus belajar. Keempat, kesadaran diri, kemampuan untuk menyadari pikiran, perasaan, dan keinginan mereka sendiri. Hal ini memungkinkan individu untuk bersikap realistis dan cakap dalam mengatur diri mereka sendiri. Kelima, kehadiran, kemampuan untuk hidup sepenuhnya di saat ini tanpa prasangka.

Thinking – Cognitive Skill

Selanjutnya pada dimensi ini individu memiliki kemampuan untuk mengembangkan keterampilan kognitifnya. Mereka dapat melihat suatu situasi dari perspektif yang berbeda, mengevaluasi informasi dan memahami dunia sebagai suatu keseluruhan yang saling terhubung. Tentu saja, kemampuan ini sangat penting untuk membuat keputusan yang bijak dan tepat.

Dimensi ini terdiri dari lima keterampilan. Pertama, berpikir kritis, yaitu kemampuan untuk mengevaluasi sesuatu dengan kritis, baik itu pandangan, bukti, atau rencana. Kedua, kesadaran kompleksitas, yaitu pemahaman dan keterampilan untuk bekerja dalam kondisi dan situasi yang kompleks. 

Ketiga, keterampilan perspektif, yaitu kemampuan untuk mencari, memahami, dan aktif menggunakan berbagai pandangan dan perspektif yang berbeda. Keempat, pembentukan makna, yaitu kemampuan untuk melihat pola dan menyusun sesuatu secara masuk akal. Kelima, orientasi jangka panjang dan pembuatan visi, yaitu fokus pada tujuan jangka panjang dan kemampuan untuk merumuskan visi.

Relating – Caring for others and the world

Individu menyadari dirinya terhubung dengan seluruh ciptaan, seperti sesama manusia, hewan, tumbuhan, dan alam semesta. Kesadaran ini mengembangkan sikap untuk menjaga dan menciptakan sistem yang lebih adil dan berkelanjutan.

Ada empat keterampilan utama dalam dimensi ini. Pertama, penghargaan, di mana individu menghargai dan bersyukur atas segala sesuatu yang terhubung dengan dirinya. Kedua, keterhubungan, kesadaran akan diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sesuatu yang lebih besar, seperti komunitas, masyarakat, kemanusiaan, hingga ekosistem global. 

Baca juga  Direct Marketing: Teknik Mendekati Pelanggan yang Efektif

Ketiga, kerendahan hati, kemampuan untuk bertindak sesuai dengan kebutuhan situasi tanpa memedulikan kepentingan pribadi atau merendahkan diri sendiri. Keempat, empati dan belas kasihan, kemampuan untuk terhubung dengan sesama manusia, diri sendiri, dan alam dengan kebaikan hati, empati, dan kepedulian.

Collaborating – Social Skill

Dalam upaya mencapai kemajuan bersama dan menyelesaikan tantangan global, individu perlu menyadari betapa pentingnya kolaborasi. Kolaborasi dilakukan dengan semua pihak yang memiliki nilai, keterampilan, dan kompetensi yang berbeda namun memiliki satu tujuan mulia.

Ada lima keterampilan utama dalam dimensi ini. Pertama, keterampilan komunikasi, yaitu kemampuan mendengarkan, membangun dialog, mengelola konflik secara konstruktif, dan menyesuaikan komunikasi dengan berbagai segmen audiens. Kedua, keterampilan co-creation, yaitu kemampuan untuk berkreasi bersama dengan berbagai pihak. 

Ketiga, pola pikir inklusif dan kompetensi lintas budaya, yaitu kemampuan merangkul keberagaman. Keempat, kepercayaan, yaitu kemampuan menunjukkan dan menjaga kepercayaan sebagai dasar hubungan. Kelima, keterampilan mobilisasi, yaitu kemampuan untuk menginspirasi dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Acting – Enabling Change

Dalam konteks ini, individu menunjukkan keberanian dan optimisme dalam menghadapi perubahan yang didukung oleh ketekunan atau kegigihan. Terdapat empat keterampilan yang diperlukan dalam dimensi ini. Pertama, keberanian, yaitu kemampuan untuk mempertahankan nilai-nilai, membuat keputusan yang berani, dan mengambil tindakan yang tegas. 

Kedua, kreativitas, yaitu kemampuan untuk menghasilkan dan mengembangkan ide-ide orisinal. Ketiga, optimisme, yaitu kemampuan untuk merawat harapan, memiliki pandangan optimis, dan mempertahankan keyakinan. Keempat, ketekunan, yaitu kemampuan untuk gigih dalam mencapai tujuan.

Penutup

Dengan berfokus pada nilai-nilai, keterampilan dan kualitas diri, IDGs dapat menjadi pendorong untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Sebab, manusia memainkan peran penting dalam membentuk dunia yang lebih berkelanjutan, adil dan penuh kesejahteraan. Inisiatif ini menjadi kunci untuk membangun masyarakat global yang lebih baik.

Baca juga  Mengenal Greenwashing, Strategi Marketing yang Menyesatkan

Mari pelajari lebih mendalam mengenai topik ini bersama program kekhususan eksekutif kolaborasi antara Unika Atma Jaya, universitas yang mengusung kajian sustainability komprehensif di Indonesia, dengan MarkPlus Institute, konsultan pemasaran pertama dan ternama di Indonesia, yaitu Program Master in Management Sustainability Marketing.

Program ini bertujuan untuk membentuk talenta organisasi yang mampu membangun strategi bisnis, memahami manajemen bisnis berkelanjutan dan menguasai strategi marketing yang aplikatif dan bisa membangun market competitiveness. Tunggu apalagi? Jadilah bagian dari Sustainability Marketing sekarang juga!

Untuk informasi lebih lanjut, klik tautan berikut ini Sustainability Marketing

Share with Your Friends!
Avatar for Atha Hira
SEO Writer

Leave a Comment