Bincang Buku “Entrepreneurial Marketing”

By

Talitha Fakhira

| Published

Entrepreneurial Marketing
Review Buku

Pada Selasa 9 Mei 2023, kolaborasi antara MarkPlus bersama Periplus melalui M Periplus Book Club kembali mengadakan bincang buku dengan judul “Entrepreneurial Marketing: Beyond Professionalism to Creativity, Leadership and Sustainability.” Sesi bincang buku kali ini diisi oleh dua penulis, yakni Pak Hermawan Kartajaya dan Mas Jacky Mussry serta dipandu oleh seorang moderator yaitu Claudia L. Odit.

Buku ini memberikan nuansa baru dalam dunia digital maupun klasikal. Dengan berkaca dari pandemi COVID-19 yang mengguncang dunia bisnis, buku ini diharapkan menjadi pedoman dalam dunia bisnis untuk tetap waspada dan mampu beradaptasi. Kunci yang dibawa oleh buku ini adalah omni house di mana omni berarti gabungan dan house berarti rumah atau bisnis.

Menurut International Monetary Fund (IMF), dunia setelah tahun 2022 akan semakin gloomy dan uncertainsehingga negara bisa saja tumbuh atau stagnan dan sebagainya. Di dunia pasca-tahun 2022 atau disebut post-new normal, perusahaan tidak bisa lagi menggunakan pendekatan professional marketing yang telah usang. Oleh karena itu, jika perusahaan ingin survive maka pendekatan entrepreneurial marketing harus diterapkan. Entrepreneurial di sini bukan berarti individu harus memiliki bisnis sendiri, melainkan sebuah mindset. Seorang entrepreneur harus bertindak dan berpikir layaknya pengusaha yang mampu mencari kesempatan, bukan seperti produser. Dengan demikian yang diharapkan adalah perusahaan dapat memadukan antara entrepreneurship dan professionalism yang akan mengantar kita ke next curve menuju 2025, 2030, dan beyond.

Dengan dunia yang semakin cepat dan dinamis, kita dapat dihadapkan dengan marketing blind spot. Dalam hal ini, perusahaan sudah merasa mengerjakan tugasnya dengan baik dan benar, tetapi tidak menyadari bahwa banyak hal di dalam perusahaan yang tidak terhubung. Apa saja contoh blind spot tersebut?

  1. Perusahaan lebih fokus pada ekonomi mikro dan mengabaikan makro ekonomi, padahal sebenarnya banyak hal di makro yang mempengaruhi mikro
  2. Ketidaksinambungan antara marketing dan finance padahal semua perhitungan finance dibutuhkan oleh marketing
  3. Integrasi offline dan online yang sulit
  4. Ketidaksinambungan antara marketing dan human capital

Adapun paradoks besar yang dibahas dalam buku ini terkait dengan market vs marketing. Dalam hal ini, marketjustru bergerak lebih cepat ke masa depan dibandingkan dengan marketing. Lalu apa yang terjadi jika dibiarkan terus menerus? Marketing hanya akan menjadi ilmu yang marjinal karena sangat rigid dan tidak mau berubah. 

Baca juga  Dorong UMKM Naik Kelas, MarkPlus Institute dan Pertamina Jalankan UMK Academy dan Pertapreneur Aggregator 2023

Terdapat dua dikotomi besar antara professionalism dan entrepreneurship menurut buku ini yang menghasilkan empat kategori perusahaan. Pertama, zombie, di mana perusahaan di sini biasanya UMKM yang tidak memiliki kapabilitas professionalism dan entrepreneurship sehingga hanya mengandalkan bantuan pihak lain. Kedua vigorous dwarf, di mana perusahaan di sini biasanya start up dengan entrepreneurship yang luar biasa tapi tidak membangun perusahaannya secara profesional. Ketiga, sluggish giant, di mana perusahaan-perusahaan besar menempati kategori ini dengan tingkat profesionalisme yang tinggi tetapi kehilangan semangat entrepreneurship-nya. Dan keempat, omni star, di mana kategori ini dapat membawa perusahaan ke tingkat next curve menuju 2030 karena telah menggabungkan kapabilitas professionalism dan entrepreneurship

Ada pun konsep CI-EL (Creativity, Innovation, Entrepreneurship, and Leadership) dan PI-PM (Productivity, Improvement, Professionalism, and Management) yang akan berpengaruh ke masa depan. Sebagai contoh, dikotomi antara creativity dan productivity. Kedua hal ini harus digabungkan dengan creativity yang dimulai dari masalah karena pada akhirnya yang dijual oleh perusahaan adalah solusi, bukan produk. Kreativitas ini harus dikonversi menjadi inovasi sehingga hasil akhirnya adalah solusi. Selama hasil akhirnya produk, maka marketingtersebut dikategorikan sebagai legacy marketing atau marketing jaman dulu yang sudah usang.

So, what’s next?

Kita (perusahaan) harus mampu menyatukan kapabilitas yang telah dipaparkan sebelumnya dalam perusahaan dengan mengkonvergensikan banyak mindset, membangun omni kapabilitas, menciptakan hubungan yang kuat antara orang marketing dan finance, menyeimbangkan technology dan humanity, serta menyeimbangkan rigiditas dan fleksibilitas.

Share with Your Friends!
Avatar for Talitha Fakhira
Research and Development team

Leave a Comment