Menurut penelitian, sebanyak 97,7% Millennial dan Gen Z sadar akan pentingnya memilih suatu produk yang memperhatikan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Biasanya, produk tersebut dihasilkan oleh perusahaan yang menerapkan konsep green business, sustainable business atau bisnis ramah lingkungan. 

Hal tersebut menjadi sinyal yang positif untuk memasuki era baru bisnis yang lebih maju dan berkelanjutan. Akan tetapi, perlu Anda ketahui bahwa konsep seperti green business ini sebenarnya sangat luas, tidak hanya menyangkut produk ramah lingkungan saja. Melainkan juga seluruh operasional bisnis yang mengutamakan keseimbangan aspek-aspek tersebut.

Lantas, seperti apa konsep green business? Mengapa konsep ini begitu penting untuk diterapkan? Dan perusahaan apa saja yang telah menerapkan konsep tersebut? Simak artikel ini untuk mengetahui jawabannya!

Pengertian Konsep Green Business

green business

Maraknya berbagai kasus lingkungan yang terjadi di Indonesia maupun di dunia menjadi penyebab utama lahirnya konsep green business atau bisnis hijau. Konsep ini merupakan upaya yang dilakukan perusahaan untuk meminimalisir dampak negatif dari aktivitas ekonomi perusahaan terhadap masyarakat, komunitas, lingkungan lokal maupun global dengan menerapkan prinsip-prinsip triple bottom line (planet, people, profit).

Menurut Green Still Water, konsep green business mencakup kegiatan operasional yang berkelanjutan, menggunakan material ramah lingkungan, menghasilkan produk minim limbah, mengelola tenaga kerja yang berkelanjutan, hingga metode pengiriman yang bertanggung jawab.

Melalui konsep ini, diharapkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) dapat terwujud pada tahun 2030. Tujuan tersebut diantaranya, yaitu menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, menjaga kualitas lingkungan hidup, serta pembangunan yang inklusif dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Contoh Perusahaan yang Menerapkan Green Business

Berikut ini merupakan beberapa perusahaan di Indonesia yang berhasil masuk dalam pemeringkatan bisnis hijau atau green business ratings yang dilakukan oleh CNBC Indonesia Research periode Mei 2023. 

Pemeringkatan ini melibatkan penggunaan indikator dan kriteria tertentu yang mencakup berbagai aspek keberlanjutan, seperti efisiensi energi, pengelolaan limbah, perlindungan alam, tanggung jawab sosial perusahaan, pembiayaan, dan lain sebagainya.

PT PLN (Persero)

PT PLN (Persero) Logo

Dalam menjangkau visi untuk “Menjadi Perusahaan Listrik Terkemuka Se-Asia Tenggara dan 1 Pilihan Pelanggan untuk Solusi Energi”, PT PLN menetapkan 4 tema tujuan strategis (strategic goals) dan 4 pendukung strategis (strategic enablers).

1. Salah satu dari tujuan strategis tersebut adalah green business yang bertujuan untuk memimpin transisi energi Indonesia melalui peningkatan energi baru terbarukan (EBT) secara pesat dan efisien. Contohnya, mereka berhasil menambah pembangkit EBT menjadi 624 MW, total limbah non B3 yang dihasilkan oleh pembangkit peraih proper emas dan hijau 2.145,87 ton, 846,26 ton berhasil dikelola dengan 3R, meraih 8 PROPER Emas, 20 PROPER Hijau dan 96 PROPER Biru, hingga pelaksanaan program penghijauan sebanyak 431.430 pohon yang naik dari tahun 2020 sebanyak 135.644 pohon.

2. Sepanjang tahun 2021 PLN berhasil beroperasi secara cofiring biomassa pada kapasitas total pembangkit sebesar 296 MW atau tercapai 296% dari target dari 100 MW di tahun 2021. Melalui berbagai inisiatif tersebut, PLN berupaya dan berkomitmen untuk mengawal program transisi energi sehingga upaya pemerintah dalam mencapai target energi bersih sebesar 23% pada tahun 2025 dapat tercapai.

Baca juga  Ketahui 5 Dimensi Pembentuk IDGs (Inner Development Goals)

PT Bayan Resources Tbk (BYAN)

PT Bayan Resources Tbk Logo

Bersamaan dengan pertumbuhan laba bersih sebanyak 81%, perhatiannya terhadap lingkungan pun semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dengan keberhasilan BYAN yang telah melakukan reklamasi lahan bekas tambang seluas 529 hektar (Ha) dan penanaman pohon pada lahan tersebut sebanyak 289 ribu pohon. BYAN juga melakukan rehabilitasi pada daerah aliran sungai (DAS) seluas 3033 Ha dan menanamkan daerah tersebut sebanyak 855,7 ribu pohon. 

Tidak hanya lingkungan, BYAN turut berkomitmen untuk peduli secara sosial dengan memperhatikan perkembangan masyarakat sekitar, seperti:

  • Kegiatan PPM (community development programs) dan jumlah desa dampingan.  
  • Pemasangan panel surya di sejumlah desa di sekitar wilayah operasional;
  • Manajemen air bersih, termasuk konstruksi pabrik
  • pengolahan air untuk desa Long Beleh Modang
  • Program universitas, asuransi beasiswa untuk murid yang layak
  • Pembangunan panti asuhan di proyek Tabang
  • Program pengembangan desa wisata di Desa Muara Siran.

PT Pertamina (Persero)

Pertamina logo

Sebagai perusahaan yang mengelola kebutuhan minyak di Indonesia, Pertamina berhasil menunjukkan bahwa mereka merupakan perusahaan berkelanjutan yang ramah lingkungan. Pertamina telah menyiapkan inisiatif untuk mendorong kontribusi energi baru terbarukan (EBT) 17% tahun 2030 dan 23% tahun 2050. Inisiatif ini disusun berdasarkan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) yang memiliki target penurunan emisi 29%.

Rencana ini dituangkan dalam delapan inisiatif, antara lain:

  1. Pemanfaatan energi panas bumi dengan kapasitas 672 MW tahun 2020 bertumbuh 67,8% menjadi 1.128 MW. Studi pengembangan PLTP Bersama PLNGG, Medco Power Indonesia , dan kegiatan EPCC binary power plant 0,5 MW di area Lahendong.
  2. Pemanfaatan green hydrogen di area geothermal dengan potensi 8.600 kg hydrogen per hari. Green hydrogen akan dimulai di pembangkit geothermal Ulubelu untuk pabrik polypropylene di RU-III Plaju.
  3. Baterai electric vehicle (EV) dan sistem penyimpanan energi melalui joint venture (JV) Indonesia Battery Company (IBC) dengan target produksi 0,2 GWh (2022) menjadi 140 GWh (2029) beserta ekosistemnya. Pertamina turut berkontribusi untuk ekosistem EV berupa infrastruktur pengisian daya, stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU/charging station) dan stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU/swapping station).
  4. Gasifikasi pembangunan methanol plant Dumai dengan kapasitas 1000 KTPA onstream (2025)potensi offtake dari Nunukan 650 KTPA (2026), Bituni pupuk Indonesia 1.800 KTPA (2026) dan Jambaran Tiung Biru. Skema sinergi portfolio upstream, refining dan petrochemical, sebesar 1.000 KTPA.
  5. EBT melalui pengembangan Dimethyl Ether (DME) dengan kapasitas 5.200 KTPA on stream (2025) dan peningkatan kapasitas pembangkit pada 2020-2026 meliputi panel surya PV (4-910 MW), angin (225 MW), dan air/hidro (200-400). Komitmen pengembangan DME telah terlihat dari tanda tangan MoU Pertamina, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan Air Products & Chemicals Inc (APCI).
  6. Penerapan ekonomi karbon di beberapa daerah melalui recycle (biomass dan biogas), reduce (Solar PV, EV, LNG Bunkering), dan reuse (CO2 untuk EOR dan methanol).
  7. Kilang ramah lingkungan/green refinery dengan kapasitas 6-100KTPA yang akan beroperasi pada 2025.
  8. Bioenergi pembangkit biomass/biogas 153 MW, bio blending gas oil & gasoline, biocrude, algae, etanol 1.000 KTPA onstream tahun 2025.

Selain itu, Pertamina juga menunjukkan keseriusan pada lingkungan melalui program langit biru yang ditujukan untuk mengendalikan pencemaran udara melalui pemakaian research octane number (RON) rendah dan menggantinya dengan RON tinggi yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga  Flanking Marketing: Taktik Jitu Jadi 'Penguasa' Pasar

PT Adaro Energy Indonesia Tbk

PT Adaro Energy Indonesia Tbk Logo

Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan di sektor yang cukup menantang secara lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG). Meskipun begitu, Adaro berkomitmen untuk mencapai ekonomi hijau dengan mengambil tindakan-tindakan seperti:

1. Mengoperasikan tambang batu bara metalurgi di Indonesia dan Australia 

Batu bara terdapat dua tipe yaitu termal dan metalurgi atau coking coal. Batu bara termal biasanya digunakan untuk pembangkit listrik, sedangkan metalurgi yang memiliki kandungan abu, kelembaban, belerang, dan fosfor yang lebih rendah dapat digunakan untuk pembuatan baja. Berdasarkan hal tersebut, batu bara metalurgi cenderung lebih ramah lingkungan.

2. Membangun smelter aluminium berkapasitas 500 ribu ton

Hilirisasi aluminium dapat menjadi sumber bahan baku yang akan digunakan untuk teknologi energi hijau seperti kendaraan listrik, pembangkit listrik angin dan surya.

3. Membangun kawasan industri hijau terbesar di dunia di Kalimantan Utara 

Kawasan industri hijau di Kalimantan Utara menjadi bagian dari rencana Adaro untuk memanfaatkan peluang sebagai kawasan berbasiskan ekonomi hijau. Kawasan industri tersebut akan menerapkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan surya (PLTS).

4. Mengembangkan proyek Energi Baru Terbarukan (EBT)

Strategi Adaro dalam mengurangi emisi dilakukan melalui pengembangan roadmap pengurangan karbon. Perusahaan mengadopsi teknologi terbaik untuk mengurangi karbon, menyediakan energi terbarukan, dan menyerap karbon.

Selain itu, Adaro juga telah melakukan inisiatif untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca (GRK). Salah satunya adalah melalui uji coba co-firing dari pelet limbah organik sekitar 5 ton per hari untuk menggantikan pembakaran PLTU batu bara.

Pada tahun 2022, performa emisi Adaro scope 1 (pembakaran bahan bakar) sebesar 1,28 juta tCO2e, emisi scope 2 (pembelian listrik) sebesar 263 tCO2e. Intensitas emisi dari setiap gigawatt (GWh) yang dihasilkan menurun 14,8% dalam periode 2020-2022, menjadi sebesar 3,67 tCO2e/GWh.

Limbah selain GRK Adaro juga mengalami penurunan dalam periode 2020-2022. SO2 menurun 37%, menjadi 575,42 ton per tahun. NOx menurun 26%, menjadi 51,87 ton per tahun. CO menurun 13%, menjadi 313,5 ton per tahun..,

5. Proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) Perusahaan Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Adaro

Adaro melalui anak usahanya Adaro Power bersama Total Eren, dan Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) berkapasitas 70 MW dengan penyimpanan (battery energy storage system/BESS) 10 MW di Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Proyek ini telah mendapat tanda tangan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Proyek ini diharapkan dapat mengalirkan listrik tahun 2025 untuk mendukung target diversifikasi EBT di Indonesia.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

Bank Mandiri Logo

Komitmen Bank Mandiri terhadap ESG (Environment, Social, Governance) dapat dibuktikan melalui keterlibatannya sebagai salah satu pionir dalam inisiatif keuangan berkelanjutan di Indonesia, yaitu “The first movers on sustainable banking”.

Dalam mendukung keberlanjutan, Bank Mandiri melakukan beberapa hal ini:

1. Membagi tiga pilar utama, yaitu sustainable banking, sustainable operation dan sustainable beyond banking.

2. Turut mengembangkan berbagai produk berkelanjutan baik dari sisi pendanaan, seperti sustainability bond, green bond & ESG report, sustainability projects, hingga penyaluran kredit konsumer untuk pembelian PLTS Atap dan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).

3. Melakukan upaya efisiensi dalam penggunaan karbon guna mencapai salah satu komitmen mereka, yaitu Net Zero Emission (NZE) operasional pada tahun 2030. Hal ini tercermin dalam penggunaan bahan bakar minyak oleh Bank Mandiri, yang mencapai tingkat terendah sejak tahun 2019 dengan total sebesar 569 ribu GJ.

Baca juga  Pentingnya Sustainable Beauty dalam Dunia Bisnis Skincare

4. Melakukan transformasi digital yang cukup memiliki peran signifikan dalam pelestarian lingkungan dengan mengurangi penggunaan kertas, serta dapat menjangkau pasar lebih luas secara sosial, geografis, dan ekonomi. 

PT Bank DBS Indonesia

Bank DBS Logo

Bank DBS telah menunjukkan komitmennya dalam penandatanganan Net-Zero Banking Alliance (NZBA) pada Oktober 2021 melalui fokus konkret berupa penyaluran pembiayaan pada industri rendah emisi dari yang sebelumnya tinggi. Transisi ini akan melindungi seluruh pihak  berkepentingan, baik dari segi lingkungan maupun risiko penentangan atas sikap tidak ramah lingkungan.

1. Dekarbonisasi merupakan tanggung jawab sosial. Peran perbankan adalah menghindari pengaliran modal yang berpotensi mempengaruhi perubahan iklim, seperti cuaca ekstrim dan peningkatan suhu.

2. Dekarbonisasi merupakan bagian dari manajemen risiko yang memerlukan keseriusan karena dampaknya hingga aspek ekonomi. Pihak yang mampu beradaptasi dan memimpin transisi ini berpotensi mendapatkan keuntungan ekonomis. Akan tetapi, lambatnya adaptasi akan memiliki risiko, sebab asetnya yang tidak ramah lingkungan akan memperoleh penolakan.

3. Dekarbonisasi merupakan peluang bisnis. Pengurangan emisi merupakan sebuah rencana yang perlu dipersiapkan secara masif. Dengan demikian, keperluan untuk investasi pada proyek dunia ini akan sangat besar. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada 2021 menyatakan investasi pengurangan emisi akan meningkat US$ 3,5 triliun secara tahunan.

4. DBS juga telah menetapkan rencana nyata pengurangan karbon dengan target menengah 2030 dan jangka panjang tahun 2050. Implementasi tersebut terbagi pada beberapa sektor yaitu, power, minyak dan gas, otomotif, steel, penerbangan, real estate, dan perkapalan.

Berbagai inisiatif tersebut yang mendasari DBS memperoleh penghargaan green rating, mengingat komitmennya menjadi pemimpin dan pengadopsi awal dari pengurangan karbon dan transisi EBT.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, mulai dari pengertian hingga bagaimana konsep green business diterapkan di berbagai perusahaan di Indonesia, kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan dari green business adalah mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan produksi dan penggunaan produk yang dihasilkan suatu perusahaan.

Suatu bisnis dapat dikatakan sebagai green business apabila telah memenuhi empat kriteria, yaitu menerapkan prinsip sustainabilitas dalam setiap keputusan bisnis, menghasilkan dan menawarkan produk atau jasa yang bersifat ramah lingkungan, perusahaan mengutamakan lingkungan dibanding dengan perusahaan kompetitor lainnya, dan berkomitmen keberlanjutan untuk menerapkan prinsip-prinsip lingkungan dalam operasi bisnisnya.

Melalui contoh perusahaan-perusahaan di atas, kita bisa mengatakan bahwa perusahaan di Indonesia tengah bergerak menuju perusahaan green business dalam rangka mencapai tujuan SDGs pada tahun 2030 mendatang dan seterusnya.

Apabila Anda ingin perusahaan Anda dapat menerapkan konsep ini dengan baik, Anda dapat mengikuti program kekhususan eksekutif kolaborasi antara Unika Atma Jaya, universitas yang mengusung kajian sustainability komprehensif di Indonesia, dengan MarkPlus Institute, konsultan pemasaran pertama dan ternama di Indonesia, yaitu Program Master in Management Sustainability Marketing.

Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswanya dalam memahami konsep dan taktik Marketing Bisnis secara berkelanjutan terutama dalam bidang Environment, Social dan Governance (ESG) untuk diimplementasikan secara langsung dalam praktik bisnis ataupun professional.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa mengklik tautan ini.

Share with Your Friends!
Avatar for Atha Hira
SEO Writer

Leave a Comment